MLM Umrah
Sabtu, 11 November 2017 - 15:19:33 WIB
Kategori: Ekonomi Syariah - Dibaca: 84 kali

Ibadah haji dan umrah merupakan ibadah yang memiliki pahala dan keutamaan yang besar. Supaya ibadah haji dan umrahnya diterima oleh Allah, maka proses perjalanan ibadah haji dan umrahnya harus dimurnikan, murni niatnya, murni bekal perjalanan ibadahnya, dan murni praktek ibadah haji dan umrahnya. Karena tidak semua orang memiliki uang yang cukup untuk bisa langsung membayar biaya haji dan umrah, maka ada banyak tawaran sebagai solusi agar bisa lebih cepat berangkat haji dan umrah. Salah satu tawaran yang cukup menggiurkan adalah bisa berangkat umrah hanya dengan membayar Rp 3.500.000. Tawaran ini ternyata ada persyaratannya, yaitu apabila calon jamaah umrah bisa mengajak orang-orang untuk bergabung mendaftar umrah lewat dirinya. Janji bonus kurang lebih Rp 1.500.000 diberikan bila orang tersebut bisa mengajak orang lain mendaftar umrah dengan menyerahkan uang muka sebesar Rp 3.500.000. Setelah mencapai jumlah dan tingkatan tertentu, maka dirinya bisa berangkat umrah. Ada yang hanya mendaftar untuk dirinya saja atau membeli satu paket (satu titik). Ada pula yang mendaftar untuk dirinya beberapa paket (beberapa titik) dengan tujuan agar dirinya bisa dengan cepat membangun jenjang piramida. Bisnis tersebut baik diakui secara terang-terangan maupun tidak, telah menggunakan sistem MLM (baca kembali Bagian Pertama dari tulisan ini mengenai Halal Haram Bisnis MLM).

Dorongan untuk mendapatkan bonus besar menyebabkan seseorang tidak lagi mempelajari apakah bisnis tersebut halal atau haram. Kondisi ini sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ  *رواه البخاري في كتاب البيوع

Akan datang suatu masa, orang tidak peduli dari mana harta yang dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram.

Berangkat ibadah umrah memang memiliki pahala yang besar. Besarnya pahala tersebut tentunya harus diikuti dengan niat karena Allah, biaya yang dikeluarkan untuk umrah berasal dari hasil yang halal, dan praktek ibadahnya juga dimurnikan. Berikut ini akan disampaikan beberapa hal yang terkait dengan praktek penjualan langsung berjenjang (MLM) umrah.

            Pertama, persyaratan bagi perusahaan penyelenggara jasa perjalanan umrah. Perusahaan penyelenggara jasa umrah telah memenuhi semua apek legalitas formal dari pihak otoritas di Indonesia. Perusahaan diwajibkan memiliki kemampuan untuk menyerahkan obyek akad, yaitu memberangkatkan orang yang sudah membayar biaya umrah untuk melaksanakan umrah. Penyerahan obyek akad tersebut dilaksanakan sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam akad jika syarat-syarat telah terpenuhi. Dalam menyelenggarakan kegiatannya, perusahaan berhak memperoleh pendapatan berupa ujrah.

Kedua, persyaratan orang (anggota) yang bergabung dalam pemasaran umrah. Anggota harus cakap hukum, beragama Islam, dan memiliki niat (rencana) untuk melakukan umrah. Tidak diperkenankan hanya untuk mengambil bonus uangnya saja dan tidak diniati berangkat umrah. Anggota hanya boleh terdaftar pada satu titik atau satu kali dalam satu program paket perjalanan umrah yang sama dan atau dalam satu program pemasaran umrah. Anggota dilarang membeli beberapa titik atau paket sekaligus agar dapat menyusun skema piramid tertentu dan cepat mendapat bonus besar. Anggota wajib membayar harga (ujrah) obyek akad. Persyaratan ini untuk menghindari praktek money game. Anggota berhak mendapatkan fasilitas/obyek akad apabila syarat-syaratnya telah terpenuhi.

Ketiga, kejelasan obyek akad dan penyerahannya. Obyek akad yang berupa Jasa Perjalanan Umrah harus jelas rinciannya pada saat akad, antara lain bimbingan manasik, visa, akomodasi, transportasi (pesawat terbang dan transportasi di tanah suci), catering, muthawwif, ziarah, dan pengurusan di bandara (handling airport). Obyek akad harus dipastikan waktu penyerahannya (pelaksanaan perjalanan umrah) pada saat akad. Obyek akad harus menjadi tujuan akad bagi anggota untuk menghindari gharar. Gharar adalah ketidakpastianlketidakjelasan dalam suatu akad, baik mengenai kualitas atau kuantitas obyek akad maupun mengenai penyerahannya. Jika tujuan akadnya hanya mengejar bonus, maka hukumnya haram karena obyek akadnya adalah jasa perjalanan umrah.

Keempat, harga jasa perjalanan umrah dan ujrahnya perusahaan penyelenggara jasa perjalanan umrah. Besaran harga jasa perjalanan umrah harus dijelaskan secara pasti sejak calon anggota mendaftarkan diri sebagai peserta pada perusahaan. Harga jasa perjalanan umrah boleh diperjanjikan dalam akad sebagai sesuatu yang bisa berubah jika terjadi perubahaan harga yang nyata atas komponen paket jasa perjalanan umrah dan perubahan harga tersebut harus disepakati oleh para pihak. Harga jasa perjalanan umrah boleh diserahkan seluruhnya kepada perusahaan pada saat akad (tunai) atau sesuai kesepakatan. Harga jasa perjalanan umrah tidak boleh dinaikkan secara berlebihan (excessive mark-up) yang merugikan anggota karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat jasa yang diperoleh. Apabila perusahaan memperoleh potongan harga jasa perjalanan umrah, maka hasil manfaat potongan tersebut dikembalikan kepada para anggota, kecuali disepakati lain dalam akad.

Kelima, perusahaan memisahkan pembukuan uang muka anggota. Perusahaan, dalam pendaftaran, hanya dibolehkan mengenakan biaya untuk mengganti hal-hal yang terkait dengan administrasi pendaftaran, seperti tanda anggota, formulir, biaya cetak buku panduan, dan lain-lain. Dalam hal harga obyek akad tidak dibayar tunai (lunas) pada saat akad, anggota (calon jamaah umrah) boleh diminta membayar uang muka dan uang muka ini merupakan bagian dari harga obyek akad. Uang muka tersebut harus digunakan perusahaan untuk mewujudkan obyek akad dan dari uang muka tersebut dalam jumlah yang wajar dapat diakui oleh perusahaan sebagai ujrah. Uang muka harus dibukukan secara terpisah sehingga jelas antara jumlah dana milik anggota dengan jumlah ujrah yang diterima oleh perusahaan.

Keenam, perusahaan atau anggota tidak boleh membatalkan akad tanpa udzur syar’i. Apabila terjadi pembatalan dari pihak perusahaan atas ijarah mausufah fi al-dzimmah berdasarkan udzur syar'i, maka semua harga obyek akad yang telah diserahkan kepada perusahaan wajib dikembalikan kepada anggota. Apabila terjadi pembatalan dari pihak anggota atas ijarah mausufah fi al-dzimmah berdasarkan udzur syar 'i, maka semua harga obyek akad yang telah diserahkan kepada perusahaan wajib dikembalikan kepada anggota setelah dikurangi biaya-biaya nyata yang wajar. Ijarah Maushufah fi al-Dzimmah adalah ijarah atas jasa (mu'jar), dalam hal ini jasa perjalanan umrah, yang pada saat akad hanya disebutkan sifat-sifat, kuantitas dan kualitasnya. Dalam hal anggota tidak mampu lagi menambah dana untuk membayar kekurangan biaya umrah dan/atau yang bersangkutan gagal merekrut mitra lainnya dalam jangka waktu yang disepakati para pihak, sehingga tidak berhasil mendapatkan dana yang cukup untuk melunasi biaya perjalanan umrah, maka perusahaan wajib mengembalikan komponen biaya paket jasa perjalanan umrah dari dana milik anggota mitra tersebut setelah dikurangi biaya yang nyata dikeluarkan oleh perusahaan.

Ketujuh, imbalan ju’alah yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan syar’i. Ju'alah adalah janji atau komitmen (iltizam) perusahaan untuk memberikan imbalan (reward/'iwadh/ju'l) tertentu kepada anggota ('amil) atas pencapaian hasil (prestasi/natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan (obyek akad Ju'alah). Perusahaan wajib membayar imbalan yang dijanjikan kepada anggota ('amil), jika anggota mencapai prestasi (menyelesaikan hasil pekerjaan/natijah/obyek akad) yang telah disepakati. Perusahaan wajib membuat akun setiap anggota secara tersendiri untuk membukukan imbalan berikut sumbernya yang diterima oleh anggota sebelum obyek akad ijarah maushufah fi al-dzimmah diwujudkan untuk diserahterimakan kepada anggota. Anggota berhak memperoleh imbalan ju'alah apabila hasil dari pekerjaan obyek akad ju'alah terpenuhi. Imbalan ju'alah yang diberikan kepada anggota harus berasal dari komponen biaya paket perjalanan umrah yang telah diakui dan dibukukan sebagai pendapatan perusahaan dan/atau dari kekayaan perusahaan. Imbalan ju'alah yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota, baik besaran maupun bentuknya, harus berdasarkan pada hasil prestasi yang dilakukan anggota sebagaimana tertuang dalam akad. Tidak boleh ada imbalan ju'alah secara pasif yang diperoleh anggota secara regular tanpa melakukan pembinaan dan/atau prestasi.

Mukhid (2015) dalam tesisnya yang berjudul “Sistem Pemasaran Umrah dan Haji Plus dalam Perspektif Hukum Islam” menyimpulkan bahwa belum ada satupun perusahaan yang ditelitinya mampu memenuhi seluruh ketentuan-ketentuan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Nomor 83/DSN-MUI/2012 tentang Pemasaran Langsung Berjenjang Syariah Jasa Perjalanan Umrah. Tesis tersebut beliau pertahankan di hadapan penguji tesis di Program Studi Hukum Ekonomi Islam, Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, Jawa Timur.

Dorongan masyarakat untuk bisa beribadah haji dan umrah sangat besar. Tidak semua bisa memiliki bekal keuangan yang cukup  untuk membayar biaya haji dan umrah. Ada yang berupaya memenuhi biayanya dengan cara berutang pada pihak lain maupun mengikuti tawaran MLM Haji dan Umrah. Supaya ibadah haji dan umrahnya diterima Allah, maka proses perjalannya harus sesuai syariat. Telitilah terlebih dahulu kehalalan dari tawaran suatu perusahaan yang menjanjikan bisa berangkat haji dan umrah dengan cara yang mudah dan cepat.

By : Administrator