Halal Haram MLM (1)

Saat ini banyak sekali bisnis yang menggunakan sistem pemasaran langsung berjenjang atau multi level marketing (MLM). Banyak masyarakat yang tertarik karena komisi dan bonus yang dijanjikan memang menggiurkan. Ada yang menawarkan bonus mulai dari rumah mewah, berlibur di kapal pesiar mewah, sampai ibadah umrah. Ada yang mengaku telah berhasil dalam bisnis MLM, sehingga mendapatkan mobil mewah. Ada pula yang telah bertahun-tahun mengikuti bisnis MLM, tetap saja hasilnya pas-pasan.

Ketika MLM mulai dipertanyakan hukum halal haramnya, maka beberapa pemilik usaha menyatakan bahwa bisnisnya bukan termasuk MLM. Agar tidak salah dalam melangkah, maka pahamilah terlebih dahulu bisnis yang akan diikutinya. Sebagai orang yang beriman, pilihlah bisnis yang jelas-jelas halal dan baiknya. Halal menurut tuntunan agama Islam, dan baik menurut hukum agama maupun pemerintah.

Pengertian MLM adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem penjualan ini menggunakan beberapa level (tingkatan) di dalam pemasaran barang dagangannya. Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat pembayaran atau pembelian tertentu. Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi (http://id.wikipedia.org).

            Sebagaimana dikutip oleh Erwandi Tarmizi (2012) dalam bukunya “Harta Haram Muamalat Kontemporer”, Dr. Sami As Suwaylim (Direktur Pengembangan keuangan Islam di Islamic Deveopment Bank, Jeddah) dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa MLM adalah perpanjangan dari Pyramid scheme/Letter chain yang berasal dari Amerika. Tatkala pemerintah setempat melarang praktik ini karena dianggap sebagai penipuan maka sistem ini dikembangkan dengan memasukkan unsur barang/produk agar mendapat legalitas dari pemerintah. Dr. Husein Syahrani menulis disertasi dengan judul  “At-Taswiq At-Tijary wa ahkamuhu fil Fiqh Al-Islami”, Fakultas Syariah, Universitas Islam Al-Imam Saud, Riyadh, Arab Saudi: “setelah mencari, meneliti, mendiskusikan serta mengkaji maka saya tidak menemukan seorang ulamapun yang berpendapat bahwa sistem MLM hukumnya mubah (boleh) secara mutlak”.

Para ulama telah menetapkan beberapa ciri-ciri MLM yang diharamkan. Pertama, lebih memasarkan komisi daripada memasarkan produknya. Seseorang yang bergabung dalam MLM, dipersyaratkan masuk menjadi anggota. Supaya bisa terdaftar sebagai anggota (downline), maka harus ada orang lain yang mereferensikannya (upline). Selanjutnya setiap mitra usaha yang baru saja bergabung dalam MLM harus dapat merekrut orang sebanyak-banyaknya agar mendapatkan komisi yang besar. Semakin banyak downline yang dimiliki dan dapat membentuk formasi tertentu, maka semakin banyak pula bonus dan komisi yang diterima. Akibatnya praktek yang terjadi adalah orang-orang yang bergabung di dalam MLM bukan memasarkan produk, tetapi lebih condong mencari anggota sebanyak-banyaknya agar bisa membentuk formasi tertentu. Mereka lebih banyak menyampaikan bonus/komisi yang akan didapat jika berhasil membentuk formasi tertentu daripada menjelaskan manfaat memakai produk dan keuntungan dari menjual produk tersebut.

Kedua, bisa menimbulkan perjudian karena yang dikejar adalah bonus/komisi tanpa berniat untuk menjual barang sebanyak-banyaknya. Seseorang menyerahkan sejumlah uang tertentu (uang pendaftaran menjadi anggota), kemudian ia berharap setelah bergabung akan mendapatkan bonus/komisi lebih besar dari pada uang yang diserahkannya tanpa melalui perniagaan yang dibenarkan secara syar’i. Paket produk yang didapatnya saat pendaftaran bukanlah tujuan utama. Niatnya bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar sebagai sarana untuk mendapatkan poin yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Padahal nilai binus/komisi yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا إِنَّمَاالْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنَ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ سورة المائدة:  ٩٠

Hai orang-orang beriman, sesungguhnya khomer, judi, anshob (berkurban untuk berhala), dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka menjauhlah kalian pada perbuatan-perbuatan itu agar kalian beruntung.

Ketiga, adanya unsur gharar dalam bisnis MLM. Di dalam MLM banyak terdapat unsur gharar  (spekulatif) atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syariat, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak. Tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi. Hanya sedikit yang berhasil mendapatkan bonus/komisi besar. Prakteknya sulit untuk bisa mendapatkan formasi tertentu agar mendapatkan bonus/komisi besar.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ رواه مسلم

Dari Abu Hurairah: Rosululloh s.a.w. melarang dari jual beli hashah dan jual beli gharar.

Keempat, bisa menimbulkan dharar. Di dalam MLM terdapat hal-hal yang bertentangan dengan kaidah umum jual beli, seperti kaidah: al-Ghunmu bi alGhurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau risiko yang dihadapinya. Di dalam MLM pihak yang paling dirugikan adalah yang berada di level paling bawah. Merekalah yang bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya dinikmati orang yang berada pada level atasnya. Orang-orang yang berada pada level atas terus menerus mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa bekerja, dan mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi jika mereka kesulitan untuk  melakukan perekrutan, dikarenakan jumlah anggota sudah sangat banyak.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَضَى أَنْ  لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. رواه ابن ماجه (تحقيق الألباني : صحيح)

Dari Ubadah bin Shomit, sesungguhnya Rasululloh s.a.w. menghukumi bahwa tidak boleh seseorang merusak (diri, harta, kehormatan) orang lain dan tidak boleh membalas pengrusakan dengan pengrusakan.

Kelima, sistem MLM bisa menyebabkan timbulnya riba fadhl. Seseorang untuk menjadi anggota membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya, seakan-akan ia menukar uang dengan uang dengan jumlah yang berbeda. Inilah yang disebut dengan riba fadhl (ada selisih nilai). Sementara produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai sarana untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota, sehingga keberadaannya tidak berpengaruh dalam hukum transaksi ini.

            Apabila menjumpai sistem MLM dengan ciri-ciri di atas, maka hukumnya adalah haram. Ada solusi agar penjualan langsung berjenjang tidak masuk dalam kategori haram. Sistem penjualan langsung berjenjang syariah insya Allah akan dibahas dalam edisi berikutnya. (Bersambung)

Diterbitkan Pada : Sabtu, 11 November 2017 - 15:17:51 WIB
Kategori: Ekonomi Syariah
Dibaca: 246 kali